
Setelah hampir dua bulan para pengungsi IDP ini tinggal di kamp pengungsian, pada akhirnya kemarin pemerintah Pakistan menyatakan bahwa mereka dapat kembali lagi ke daerahnya masing-masing di kawasan lembah Swatt.
Ada kegembiraan sekaligus kekawatiran yang terpancar dari wajah-wajah mereka, kegembiraan karena mereka akan kembali dapat memulai hidup secara normal, berkumpul dengan sanak saudara mereka, memulai aktifitas kembali dan kembali membereskan puing-puing kerusakan yang ada. Sementara kekawatiran atas kembalinya militan Taliban ke lembah ini.
Operasi militer atas TNSM di wilayah Swatt ini telah menjadikan hampir 3 juta penduduknya terpaksa mengungsi menuju kamp-kamp pengungsian disaat teriknya musim panas yang serasa menyengat.
Agak menggelitik ketika saya membaca salah satu headlines koran hari ini yang berjudul Journey back home begin, termasuk galery foto para pengungsi yang bersuka cita akan kembali ke daerah asal mereka. Ada diantara mereka yang mendapati rumahnya dalam keadaan porak poranda, seperangkat komputer, buku-buku pegangan kuliah hancur berkeping-keping, tapi meskipun demikian masih tetap bersuka cita, karena bisa kembali kerumahnya.
Setelah ini, tentunya masih banyak pe-er pemerintah dalam menjamin keamanan bagi para penduduknya, hal tersebut tentunya ditopang dengan kuatnya pemerintahan daerah yang ada, termasuk garda penjaga keamaan sehingga rakyat dapat mempercayakan pada pemerintah. Lebih dari itu, pembangunan infrastruktur yang memadai, lancarnya pasokan ekonomi dan geliat perdagangan akan menghidupkan gairah masyarakat untuk membangun kembali puing-puimg yang retak. Tentunya hal tersebut membutuhkan waktu yang tidak singkat, proses yang berkesinambungan disamping pemerintah tetap mengedepankan sarana pendidikan bagi anak-anak usia sekolah dan tentunya menjadikan pendidikan sebagai kewajiban yang terjangkau oleh masyarakat umum.
Hanya ada yang sedikit menggelitik dalam benak pikiran saya, karena terlepas dari kegembiraan dan kekawatiran dari antrian going back home ini, rasanya operasi ini selayaknya tidak bisa di geletakkan begitu saja, karena biar bagaimanapun ada kesempatan dimana ketika pemerintah lengah, maka mereka akan kembali mengepakkan pengaruhnya. Saya khawatir ketidaktuntasan operasi ini akan ditunggangi oleh kelompok tertentu untuk kembali menyulut api sebagai dalih pencairan dana bantuan luar negeri atau pinjaman lunak. Sementara pemerintah akan semakin tidak berdaya dengan dikte dari negara pendonor.
Sebentuk pelajaran berharga, bahwa ideologi apapun akan semakin kabur visinya ketika ada kepentingan tertentu yang membaur di dalamnya, sehingga pada akhirnya ideologi tersebut akan semakin kabur dan akan semakin sulit ditafsirkan.
Tuesday, July 14
Back Home Dengan Senyuman
Monday, June 22
Kemenangan Untuk Bangsa Yang Gelisah

Sebentuk kemenangan yang mengharukan, disaat kondisi negara yang morat-marit dalam kungkungan berbagai kejadian yang membuat rakyat jelata semakin terhimpit. Ada sebentuk harapan cerah dan kebanggaan tersendiri, bahwa dalam kondisi yang serba sulit dan tidak terpredediksikan ini, tim Cricket nasional Pakistan berhasil memenangkan Twenty20 World Cup Championship, setelah Minggu malam pertandingan final yang menegangkan melawan Tim Cricket Srilanka yang diadakan di London.
Kata-kata sang kapten tim, Younus Khan yang mengharukan yang di rilis di berbagai media membuat kemenangan ini sebagai kemenangan yang extraordinary. ‘We hadn't won anything since Imran Khan's team at the World Cup in 1992. This is a our gift to our nation. Hopefully, it will help cheer them up.’ Semenjak kemenangan tim Imran Khan kita tidak lagi menjuarai World Cup, dan kemenangan ini merupakan hadian untuk bangsa kami, semoga dengan kemenangan ini dapat membuat mereka semua bahagia dan bangga.
Setelah peristiwa serangan atas tim cricket Srilanka beberapa waktu lalu, ada kepesimisan muncul karena tim cricket Pakistan terancam tidak bisa mengikuti turnamen bergengsi ini. Bukan hanya karena isu terorisme, serangan atas rombongan tim Srilanka yang hanya sehari sebelum pertandingan ini, menorehkan luka dalam atas masa depan keikutsertaan Pakistan pada turnamen Cricket Internasional, sehingga setelah peristiwa tersebut, organisasi cricket internasional melarang di adakannya turnamen cricket skala internasional di bumi Pakistan.
Dengan outdoor screen yang di pasang hampir di tiap sudut kamp pengungsian, membuat ribuan pengungsi ini dapat menyaksikan pertandingan bersejarah ini. Kurang lebih sekitar dua juta pengungsi dari kawasan NWFP dengan kondisi perang yang masih sengit di lembah Swatt antara tentara Pakistan dan militan dan diantara krisis yang terjadi di Waziristan Selatan, sebuah kabar gembira atas kemenangan ini seakan-akan menjadi single panaccea, atas penyakit akut yang selama ini telah di derita rakyat.
Tentu sudah bukan rahasia umum lagi, masalah keamanan internal, menjadikan kontingen asing merasa terancam keamanannya untuk dapat bermain di Pakistan. Karena semenjak peristiwa penembakan atlit cricket srilanka, praktis tidak ada lagi kontingen asing yang menjadi tamu di negeri Bhutto ini. Dan kesediaan London sebagai tuan rumah atas pertandingan final world cup cricket ini memberikan harapan baru dari kepesimisan kontingen cricket Pakistan.
Dan pertandingan hari Minggu kemarin menunjukkan bahwa mereka bertanding dengan semangat membara untuk menjadi pemenang. They played great..terlebih menit terakhir yang mendebarkan, dan Shahid Afridi pemain andalan tim ini berhasil menutup pertandingan ini dengan kemenangan yang menjadi tongak sejarah kemenangan Pakistan di ajang bergengsi Twenty20 World Cup Championship.
Sontak, pesta terdengar dimana mana, kegembiraan yang menjadi sebuah hiburan dari kepesimisan atas kondisi internal yang selalu diselimuti ketidakstabilan internal. Pesta kembang api, grup musik jalanan, orang membagi-bagikan sweet (sebuah tradisi dalam tiap perayaan tertentu mereka akan membagi-bagikan sweet, semacam manisan kepada siapa saja yang lewat), dan sebagian berkonvoi keliling kota sambil berjoget diiringi gendang pesta dari tempo lambat dan semakin cepat menghanyutkan rombongan konvoi pesta kemenangan ini.
Hari itu, sejenak headline berita dipenuhi dengan berita kemenangan tim Cricket Pakistan, dari channel BBC sampai CNN merilis kemenangan ini, lagu we are the champion di kumandangkan hampir di seluruh stasiun televisi yang ada di Pakistan. Great victory for the troubled nation, biarkan bangsa ini sejenak tersenyum dengan kemenangan manis ini, agar goresan luka disana sini dapat sejenak terlupakan oleh rakyat Pakistan, karena rasanya hampir terlalu lama rakyat bermuram durja. Pakistan Zindabab..
Wednesday, June 17
Cinta Sejati
Dalam hamparan kain sajadahku kucoba pejamkan kalbu, mencari-cari adakah kutemui cahaya yang selama ini menyalakan bara cintaku, kurapatkan telinga ini, mencoba mencari bisikan cinta yang sayup terdengar namun kian jauh tergapai diri, tertangkupku ditengah buaian cinta, bertutur dalam balur cinta mati, terhujam menusuk kalbu terdalam, tenggelam di dasar pijar nafsu.Kutemukan cinta di tiap detik helaan nafas hidup, dalam suap demi suap protein yang menguatkan pikir, dalam tiap karbohidrat yang menguatkan tenaga, dalam asupan kalsium yang menyangga berat badanku agar tidak rubuh dalam terpaan badai.
pijaran cinta ini kenapa berat tergapai, berpijar mengelilingi semua sudut hidup tapi tak cukup menguatkan diri untuk menjadi ikhlas dan sabar. Bukankah cinta menjadikan seseorang semakin kuat meniti hidup, tanpa pamrih..
terlalu dangkal terpahami makna cinta yang sulit tergapai dalam kerangka nafsuku sebagai seorang manusia biasa, barangkali sauh terlalu sulit kulepas sehingga dapat diri ini menepi, mencari harta karun cinta sejati yang jauh tersembunyi ditengah belantara hidup sehingga menguatkan diri agar dapat berserah dengah keikhlasan dan kesabaran.
Wednesday, June 10
Perang, Bom dan Pengungsi
Teroris..
Siapa sebetulnya mereka? wacana teroris semakin nyaring terdengar bersama dengan peristiwa 11 September, seorang tokoh dengan nama Osama bin Laden mendadak menjadi jawara tokoh teroris internasional yang mengancam ketentraman dan kedamaian dunia.
Tudingan beralih ke wilayah Afghanistan, sehingga serangan maha dasyat atas negara Taliban melawan tehnologi yang serba canggih, hingga kini base-camp raksasa tentara AS ada di tengah padang landlock tanah Afghanistan, berusaha untuk menyudahi keberadaan Taliban di wilayah ini.
Sementara Pakistan, sang tetangga menjadi sasaran tudingan pula, dengan dalih wilayah tribal area menjadi surga base camp pelatihan dan perekrutan Taliban di wilayah Pakistan. Trilyunan USD dana mengalir, entah barangkali dengan dalih pembangunan infrastruktur, sarana pendidikan dan kesejahteraan, tapi bersamaan dengan itu pula, justru memunculkan neo-neo Taliban di bumi pakistan, terlebih di wilayah North Waziristan, dan NWFP (North West Frontier Province) di wilayah swatt dan kawasan FATA (atau tribal area)
Kegatalan pemerintah atas keberadaan mereka yang sering membuat masyarakat setempat tidak tentram, menjadikan pemerintah menyetujui pemberlakukan Nizam-ul-Adl dengan barter jaminan keamanan dan ketertiban, tetapi sayang..ternyata tidak berjalan dengan mulus, sementata aksi-aksi bom bunuh diri semakin marak terjadi.
Operasi militer kemudian menjadi pilihan, jutaan penduduk setempat terpaksa mengungsi menyelamatkan diri dari kawasan gencatan senjata, sebuah pilihan yang berat, karena mereka terpaksa meninggalkan tanah, ladang, ternak dan kebun-kebun, garapan mereka yang tidak sedikit sudah siap panen. Karena wilayah ini merupakan kawasan lembah subur yang menyokong export agrobisnisnya Pakistan. Jutaan rakyat mengungsi, IDP (Internally Displaced People) julukan mereka, trilyunan dana dikucurkan untuk mendirikan camp pengungsian berupa tenda-tenda darurat sampai sekolah untuk anak-anak mereka.
Saat musim panas sedang pada puncak teriknya, saya tidak terbayang bagaimana panasnya hidup di tenda-tenda pengungsian.
Dan TNSM mulai terjepit, sebagian kawasan mulai dinyatakan cleared, aman, dan penduduk yg kotanya dinyatakan aman di perbolehkan untuk kembali ke desanya. Tapi, apakah semudah itu? Disana mereka terjepit dan terpukul mundur, tapi keterjepitan mereka justru semakin menambah ancaman serangan bom bunuh diri di wilayah kota besar.
Karena puluhan milisi Taliban diberitakan tertangkap menyusup diantara para IDP, sementara tidak menutup kemungkinan ada yang sudah masuk kawasan kota, dan menyusun strategi untuk menghancurkan gedung-gedung strategis.

Belum ada dua minggu lewat aksi serangan bom atas kantor pusat unit pertolongan Rescue 15 di kota Lahore, sehingga meluluhlantakkan gedung ini, seminggu kemudian bum bunuh diri di tengah-tengah para jamaah sholat jum'at yg menewaskan tidak kurang dari 39 orang, terjadi di kawasan Upper Dir, selang sehari kemudian kembali bom bunuh diri di unit Rescue 15 wilayah Islamabad yg menewaskan 5 org, dan tadi malam kembali bom mobil yang membawa sekitar 500 kg peledak berhasil menerjang cekpos sekuriti pintu masuk hotel terbesar di kota Peshawar, Pearl Continental Hotel, yg meluluh lantakkan setengah bangunan hotel tersebut sehingga menjadi puing yang hampir roboh. Korban terus bertambah, diantara reruntuhan bangunan.
Mengikuti berita tersebut rasanya kita hendak mati rasa, sebegitu tidak berharganyakah nyawa manusia, tentu ada pihak yang di untungkan dengan peristiwa ini, pelaku, donatur dan kambing hitam. Yang jelas kemenangan militer dalam operasi ini berdampak pada semakin vulnarable-nya kota kota besar atas ancaman serangan bom bunuh diri.
War is over when you finished it, menyitir kata-kata John Lennon, perang tidak akan berakhir selama tidak ada yang mencoba untuk mengakhirinya, sama halnya juga perang tidak akan mulai selama tidak ada genderang dimulainya perang, war is the last choice, selama pemerintah dan Taliban tidak berusaha untuk mencoba mengakhiri perang ini dan saling toleransi atas keberadaan masing-masing barangkali kerugian dan trauma peperangan ini dapat diminimalisir.
Sama halnya dgn kasus Ambalat, jangan sampai kasus tersebut memprovokasi rakyat kita untuk mendengungkan perang, karena perang itu pahit..getir, segetir-getirnya. Semoga kita tidak menjadi bangsa yang mudah terprovokasi oleh media. Read More......



